EMLIY EPRIL QUROHMAN
Garut, 3 April 2013
DALAM LOMBA MENULIS ANAK-ANAK USIA 10-12 TAHUN
TEMA:
“Aku dan Lingkunganku Bebas Narkoba”
Tingkat Nasional
Judul: “Aku Masih Menunggu Kakakku Pulang”
Namaku Emliy, aku siswa kelas 5 SD. Hari ini aku ingin menulis sesuatu yang sangat penting bagi hidupku dan teman-temanku di sekolah.
Aku tidak menulis ini karena aku pintar. Aku menulis ini karena aku pernah melihat sesuatu yang membuatku takut, sedih, dan sadar bahwa narkoba itu benar-benar berbahaya.
Aku punya seorang kakak yang dulu sangat aku sayangi. Dia baik, sering membantuku belajar, dan selalu membuat rumah terasa ramai dengan tawa.
Tapi perlahan, semuanya berubah.
Kakakku jadi sering diam, mudah marah, dan jarang di rumah. Aku sering merasa rindu seperti dulu, tapi aku tidak tahu apa yang sedang terjadi padanya.
Suatu hari, aku mendengar orang dewasa di rumah berbicara tentang sesuatu yang disebut narkoba. Dari situlah aku mulai mengerti bahwa ada sesuatu yang merusak hidup kakakku.
Di sekolah, guruku juga pernah menjelaskan tentang narkoba. Katanya, narkoba adalah zat berbahaya yang bisa merusak tubuh, pikiran, dan masa depan seseorang.
Aku kaget.
Aku tidak menyangka sesuatu yang terlihat seperti tidak langsung berbahaya bisa menghancurkan kehidupan seseorang secara perlahan.
Sejak saat itu, aku mulai takut. Aku takut kehilangan kakakku sepenuhnya.
Setelah kakakku terpengaruh narkoba, suasana rumah berubah.
Tidak ada lagi tawa seperti dulu. Ayah dan ibu sering terlihat sedih. Aku juga sering diam di kamar karena tidak tahu harus berbuat apa.
Rumah yang dulu terasa hangat, sekarang terasa sepi.
Aku merindukan kakakku yang dulu. Kakak yang mengajarkanku membaca, yang mengajakku bermain, dan yang selalu melindungiku.
Sekarang, semuanya terasa berbeda.
Aku sering duduk diam dan berpikir, kenapa sesuatu yang tidak terlihat berbahaya bisa menghancurkan begitu banyak hal dalam hidup seseorang.
Dari semua yang terjadi, aku mulai mengerti bahwa narkoba bukan hanya merusak orang yang menggunakannya, tetapi juga merusak orang-orang yang mencintainya.
Aku juga jadi sadar bahwa kita sebagai anak-anak harus hati-hati, karena bahaya bisa datang dari mana saja, bahkan dari rasa penasaran atau ajakan teman.
Aku ingin kakakku kembali seperti dulu. Aku masih berharap itu, meskipun aku tidak tahu kapan itu bisa terjadi.
Tapi aku belajar satu hal penting, bahwa aku harus menjaga diriku sendiri, teman-temanku, dan masa depanku agar tidak ikut hancur karena hal yang sama.
Aku tidak ingin ada lagi anak-anak lain yang merasakan kehilangan seperti yang aku rasakan sekarang.
Aku hanya ingin sekolah menjadi tempat yang aman, tempat kami bisa belajar, tertawa, dan bermimpi tanpa rasa takut.
Dan aku berharap, suatu hari nanti, kakakku bisa tersenyum lagi seperti dulu.
Juara 2
EVANDIO HERMAWAN
Tangerang Selatan, 12 Oktober 2013
DALAM LOMBA MENULIS ANAK-ANAK USIA 10-12 TAHUN
TEMA:
“Aku dan Lingkunganku Bebas Narkoba”
Tingkat Nasional
Judul: “Masa Depanku Lebih Berharga daripada Narkoba”
Perkenalkan, Namaku Evandio. Aku berusia 12 tahun dan duduk di kelas 5 SD. Aku mempunyai banyak cita-cita. Kadang aku ingin menjadi dokter, kadang ingin menjadi polisi, dan kadang ingin menjadi guru. Apa pun cita-citaku nanti, aku ingin menjadi orang yang bisa membanggakan kedua orang tuaku.
Suatu hari, sekolahku mengadakan penyuluhan tentang bahaya narkoba. Awalnya aku mengira narkoba hanya masalah orang dewasa. Aku berpikir anak-anak sepertiku tidak perlu mempelajarinya. Tetapi setelah mendengarkan penjelasan dari narasumber, aku baru sadar bahwa anak-anak juga harus tahu agar tidak menjadi korban.
Narasumber menjelaskan bahwa narkoba adalah zat yang sangat berbahaya. Orang yang menggunakannya bisa kehilangan kesehatan, kehilangan semangat belajar, bahkan kehilangan masa depannya. Mendengar penjelasan itu, aku menjadi berpikir bahwa narkoba bukan hanya merusak tubuh, tetapi juga menghancurkan mimpi seseorang.
Setelah pulang sekolah, aku menceritakan semua yang kupelajari kepada ayah dan ibu. Ayah berkata bahwa banyak orang menyesal setelah mencoba narkoba. Mereka awalnya hanya ingin tahu atau ikut-ikutan teman. Namun akhirnya mereka sulit berhenti karena sudah kecanduan.
Dari cerita ayah, aku belajar bahwa memilih teman adalah hal yang sangat penting. Teman yang baik akan mengajak kita belajar, bermain, beribadah, dan melakukan hal-hal yang bermanfaat. Sebaliknya, teman yang salah bisa mengajak kita melakukan sesuatu yang merugikan diri sendiri.
Aku sangat bersyukur mempunyai teman-teman yang saling mengingatkan. Saat istirahat kami lebih senang bermain sepak bola, membaca buku di perpustakaan, atau berlatih untuk lomba sekolah. Aku merasa kegiatan-kegiatan seperti itu jauh lebih menyenangkan daripada mencoba hal-hal yang berbahaya.
Menurutku, sekolah adalah tempat untuk menanam mimpi. Di sekolah kami belajar membaca, berhitung, menghargai teman, dan mengejar cita-cita. Karena itu, sekolah harus menjadi tempat yang aman dan bebas dari narkoba.
Guru juga memiliki peran yang sangat penting. Guru tidak hanya mengajarkan pelajaran, tetapi juga mengajarkan bagaimana menjadi anak yang jujur, disiplin, dan berani mengatakan tidak kepada hal-hal yang buruk. Aku senang jika sekolah sering mengadakan kegiatan tentang bahaya narkoba agar semua siswa semakin memahami risikonya.
Selain guru, orang tua juga sangat penting. Kasih sayang, perhatian, dan waktu bersama keluarga membuat anak-anak merasa dicintai. Ketika anak mempunyai masalah, mereka tidak perlu mencari pelarian ke hal-hal yang salah.
Aku percaya bahwa mencegah lebih baik daripada mengobati. Oleh karena itu, kita harus mengenal bahaya narkoba sejak kecil. Pengetahuan akan menjadi pelindung yang membuat kita mampu mengambil keputusan yang benar.
Sebagai pelajar, mungkin kami belum bisa melakukan hal-hal besar. Namun kami bisa memulai dari hal-hal sederhana, seperti memilih teman yang baik, belajar dengan rajin, mengikuti kegiatan positif, dan berani menolak ajakan yang tidak baik.
Aku ingin mengajak semua teman-teman di Indonesia untuk menjaga diri dan saling mengingatkan. Jangan pernah mencoba narkoba, walaupun hanya sekali. Jangan biarkan rasa penasaran merusak masa depan yang sudah kita impikan.
Aku yakin setiap anak mempunyai mimpi yang indah. Ada yang ingin menjadi dokter, guru, atlet, polisi, ilmuwan, atau pemimpin bangsa. Semua mimpi itu bisa tercapai jika kita menjaga diri dari hal-hal yang merusak.
Mari kita buktikan bahwa anak-anak Indonesia adalah generasi yang sehat, cerdas, dan berani berkata:
“Prestasi membuatku bangga, narkoba menghancurkan cita-cita. Aku memilih masa depan, bukan narkoba.”
Juara 3
DIANA SETIAWATI
Tangerang, 12 September 2014
DALAM LOMBA MENULIS ANAK-ANAK USIA 10-12 TAHUN
TEMA:
“Aku dan Lingkunganku Bebas Narkoba”
Tingkat Nasional
Judul: “Senyuman untuk Masa Depan Tanpa Narkoba”
Namaku Diana. Aku berumur 11 tahun dan duduk di kelas 5 SD. Setiap pagi aku berangkat ke sekolah dengan membawa tas, buku, dan mimpi-mimpiku. Aku ingin belajar dengan rajin supaya suatu hari nanti bisa menjadi seorang dokter yang membantu banyak orang.
Di sekolah, guruku sering mengatakan bahwa kesehatan adalah harta yang sangat berharga. Tubuh yang sehat membuat kita bisa belajar, bermain, dan meraih cita-cita. Karena itu, kita harus menjauhi semua hal yang dapat merusak kesehatan, salah satunya adalah narkoba.
Sebelum mendapat pelajaran di sekolah, aku hanya pernah mendengar kata “narkoba” dari berita di televisi. Aku belum mengerti apa artinya. Setelah guru menjelaskan, aku baru tahu bahwa narkoba adalah zat berbahaya yang dapat merusak tubuh, pikiran, dan masa depan seseorang.
Aku merasa sedih ketika mengetahui bahwa banyak anak muda kehilangan cita-citanya karena narkoba. Padahal setiap anak pasti mempunyai impian. Ada yang ingin menjadi guru, polisi, tentara, atlet, atau bahkan presiden. Semua impian itu membutuhkan tubuh yang sehat, pikiran yang jernih, dan semangat untuk belajar.
Menurutku, sekolah adalah tempat yang paling indah untuk mengejar mimpi. Di sekolah kami belajar membaca, menulis, berhitung, bekerja sama, dan saling menghormati. Kami juga diajarkan untuk menjadi anak yang jujur dan bertanggung jawab.
Karena itulah, sekolah harus menjadi tempat yang aman dari narkoba. Jangan sampai ada orang yang mencoba merusak masa depan anak-anak dengan menawarkan barang yang berbahaya. Semua warga sekolah harus saling menjaga dan saling mengingatkan.
Aku juga percaya bahwa teman mempunyai pengaruh yang besar. Teman yang baik akan mengajak kita belajar bersama, bermain olahraga, mengikuti lomba, atau membantu teman yang kesulitan. Teman sejati bukanlah teman yang mengajak melakukan hal-hal yang salah.
Di rumah, ayah dan ibu selalu mengingatkanku untuk berkata jujur dan berani menolak ajakan yang tidak baik. Mereka mengatakan bahwa keberanian bukan berarti berkelahi, tetapi berani memilih jalan yang benar walaupun berbeda dengan orang lain.
Aku ingin menjadi anak yang berani berkata, “Tidak!” jika suatu hari ada orang yang mengajakku mencoba sesuatu yang berbahaya. Aku juga ingin mengajak teman-temanku melakukan hal yang sama. Kita tidak perlu malu untuk menolak, karena menjaga diri adalah pilihan yang paling baik.
Menurutku, ada banyak kegiatan yang jauh lebih menyenangkan daripada melakukan hal-hal yang merugikan. Aku senang membaca buku cerita, bermain bulu tangkis, menggambar, dan mengikuti kegiatan pramuka. Saat melakukan kegiatan itu, aku merasa bahagia karena waktuku digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat.
Aku percaya bahwa masa depan Indonesia ada di tangan anak-anak zaman sekarang. Jika kami tumbuh menjadi anak yang sehat, rajin belajar, dan menjauhi narkoba, Indonesia akan mempunyai generasi yang hebat.
Oleh karena itu, aku ingin mengajak semua teman-teman di seluruh Indonesia untuk saling menjaga. Jangan mudah percaya kepada orang yang menawarkan sesuatu yang tidak kita kenal. Jika merasa takut atau bingung, segera bercerita kepada orang tua, guru, atau orang dewasa yang kita percaya.
Aku yakin, langkah kecil yang kita lakukan hari ini akan menjadi awal dari masa depan yang besar.
Mari kita isi hari-hari kita dengan belajar, bermain, beribadah, dan berbuat baik kepada sesama. Mari kita jaga sekolah kita agar selalu menjadi tempat yang aman, nyaman, dan penuh senyuman.
Karena bagiku, senyuman seorang anak jauh lebih indah daripada kesedihan yang disebabkan oleh narkoba.
Aku adalah anak Indonesia. Aku sehat, aku berani, aku punya cita-cita, dan aku memilih berkata: “Tidak untuk Narkoba!”
Juara 1
KHAIDIR ALI
Tangerang, 16 Maret 2011
DALAM LOMBA MENULIS REMAJA USIA 13-15 TAHUN
TEMA:
“Aku dan Lingkunganku Bebas Narkoba”
Tingkat Nasional
Judul: “Aku Tidak Mau Masa Depanku Rusak”
Kadang aku suka berpikir, hidup sebagai remaja itu ternyata tidak selalu mudah. Dulu waktu masih kecil, aku mengira kalau sudah SMP semuanya akan terasa menyenangkan. Bisa punya banyak teman, bisa lebih bebas, bisa bermain, belajar, dan mulai memikirkan cita-cita. Tapi setelah aku semakin besar, aku sadar bahwa menjadi remaja juga berarti harus mulai bisa memilih mana yang baik dan mana yang buruk.
Salah satu hal buruk yang sering aku dengar adalah narkoba. Aku sering melihat tulisan “Jauhi Narkoba” di sekolah, di poster, atau di berita. Awalnya aku merasa itu hanya tulisan biasa. Aku pikir narkoba itu jauh dari kehidupanku. Aku pikir narkoba hanya ada di berita atau terjadi pada orang-orang tertentu saja. Tapi sekarang aku mulai sadar bahwa narkoba bisa mendekati siapa saja, termasuk anak-anak seusiaku, kalau kami tidak hati-hati.
Aku tidak mau hidupku rusak karena narkoba. Aku masih terlalu muda untuk kehilangan masa depan. Aku masih punya banyak impian. Aku ingin sekolah dengan baik, ingin membanggakan orang tua, ingin punya teman yang baik, dan ingin menjadi orang yang berguna. Kalau aku sampai memakai narkoba, semua itu bisa hancur. Bukan hanya tubuhku yang rusak, tetapi pikiranku, sekolahku, keluargaku, dan masa depanku juga bisa ikut hancur.
Aku pernah membayangkan, bagaimana kalau suatu hari ada teman yang menawariku sesuatu yang mencurigakan. Mungkin dia bilang, “Coba saja, tidak apa-apa,” atau “Sekali saja tidak akan membuat kecanduan.” Jujur, mungkin aku akan merasa takut. Aku takut dianggap pengecut. Aku takut dijauhi teman. Aku takut dibilang tidak gaul. Tapi aku juga sadar, lebih baik kehilangan teman yang buruk daripada kehilangan masa depan.
Menurutku, teman yang baik tidak akan mengajak kita melakukan hal yang salah. Teman yang baik tidak akan memaksa kita mencoba sesuatu yang berbahaya. Teman yang baik justru akan menjaga kita, mengingatkan kita, dan membantu kita menjadi lebih baik. Kalau ada teman yang mengajak memakai narkoba, berarti dia bukan teman yang pantas diikuti.
Aku ingin berani berkata tidak. Aku ingin bisa menjaga diriku sendiri. Mungkin berkata tidak itu tidak selalu mudah, apalagi kalau yang mengajak adalah teman dekat. Tapi aku harus ingat bahwa hidupku adalah tanggung jawabku. Aku tidak boleh membiarkan orang lain merusak masa depanku. Aku tidak boleh ikut-ikutan hanya karena ingin diterima.
Aku juga sadar bahwa lingkungan sangat berpengaruh. Kalau lingkunganku baik, aku akan lebih mudah melakukan hal baik. Tapi kalau lingkunganku buruk, aku bisa saja ikut terbawa. Karena itu, aku ingin hidup di lingkungan yang bebas narkoba. Aku ingin rumah, sekolah, dan tempat bermainku menjadi tempat yang aman. Aku ingin semua orang saling menjaga, bukan saling menjerumuskan.
Di sekolah, aku ingin suasananya bersih dari narkoba. Aku ingin teman-temanku sibuk dengan hal-hal positif, seperti belajar, olahraga, ikut kegiatan sekolah, atau mengembangkan bakat. Aku ingin kami bisa bercanda dan bermain tanpa melakukan hal yang merusak diri sendiri. Aku ingin sekolah menjadi tempat yang membuat kami tumbuh, bukan tempat yang membuat kami jatuh.
Aku tahu tidak semua anak punya kehidupan yang mudah. Ada anak yang kurang perhatian dari orang tua. Ada yang sering merasa kesepian. Ada yang punya banyak masalah di rumah. Ada juga yang merasa tidak punya tempat untuk bercerita. Mungkin karena itulah ada orang yang akhirnya mencari pelarian. Tapi narkoba bukan jalan keluar. Narkoba tidak menyelesaikan masalah. Narkoba justru membuat masalah menjadi lebih besar.
Kalau sedang sedih atau punya masalah, menurutku lebih baik bercerita kepada orang yang dipercaya. Bisa kepada orang tua, guru, kakak, saudara, atau teman yang benar-benar baik. Memang tidak semua orang langsung mengerti perasaan kita, tetapi setidaknya kita tidak menyimpan semuanya sendirian. Memendam masalah terlalu lama bisa membuat hati terasa berat.
Aku sendiri juga pernah merasa sedih, kecewa, dan lelah. Kadang aku merasa tidak dimengerti. Kadang aku juga malas belajar atau merasa ingin menyerah. Tapi aku tahu, perasaan seperti itu bukan alasan untuk merusak diri. Semua orang pasti punya masalah. Yang penting adalah bagaimana cara kita menghadapinya.
Aku ingin mengisi waktuku dengan kegiatan yang lebih baik. Misalnya belajar, membaca, olahraga, membantu orang tua, bermain bersama teman yang baik, atau melakukan hobi. Kegiatan seperti itu mungkin terlihat sederhana, tetapi bisa membuat hidup lebih terarah. Kalau waktu luang digunakan untuk hal positif, kita tidak mudah terpengaruh oleh ajakan buruk.
Aku juga berharap orang dewasa lebih peduli kepada anak-anak remaja. Kadang kami terlihat baik-baik saja, padahal sebenarnya kami sedang banyak pikiran. Kadang kami tertawa di depan teman-teman, tetapi sebenarnya menyimpan masalah. Remaja bukan hanya butuh dimarahi ketika salah. Remaja juga butuh didengarkan, dibimbing, dan diberi perhatian.
Namun aku juga tidak mau hanya menyalahkan orang lain. Aku sendiri harus punya pendirian. Aku harus bisa memilih pergaulan. Aku harus tahu mana yang aman dan mana yang berbahaya. Kalau ada sesuatu yang terasa mencurigakan, aku harus menjauh. Kalau ada teman yang membawa pengaruh buruk, aku harus berani menjaga jarak.
Aku mungkin belum menjadi anak yang sempurna. Aku masih sering melakukan kesalahan. Aku masih kadang malas, kadang emosi, dan kadang susah dinasihati. Tapi aku ingin terus belajar menjadi lebih baik. Salah satu hal yang ingin aku pegang adalah aku tidak mau menyentuh narkoba. Aku tidak mau mencobanya, tidak mau mendekatinya, dan tidak mau menganggapnya sebagai hal biasa.
Bagiku, narkoba adalah sesuatu yang sangat berbahaya. Banyak orang awalnya hanya coba-coba, tetapi akhirnya kecanduan. Awalnya mungkin mereka merasa bisa berhenti kapan saja, tetapi lama-lama mereka kehilangan kendali. Aku tidak mau mengalami hal seperti itu. Aku tidak mau membuat orang tuaku sedih. Aku tidak mau mengecewakan orang-orang yang sayang kepadaku.
Aku ingin lingkunganku juga bebas dari narkoba. Aku ingin teman-temanku saling mengingatkan. Kalau ada teman yang mulai salah jalan, jangan langsung dijauhi atau dihina. Lebih baik dibantu dan dinasihati. Tapi kalau dia malah mengajak kita ikut salah, kita harus tegas menolak. Peduli bukan berarti ikut melakukan kesalahan. Peduli berarti membantu orang lain keluar dari hal buruk.
Menurutku, lingkungan bebas narkoba harus dimulai dari diri sendiri. Tidak perlu menunggu orang lain berubah dulu. Aku bisa mulai dari hal kecil, seperti memilih teman yang baik, tidak mencoba hal berbahaya, mendengarkan nasihat orang tua dan guru, serta menggunakan waktu untuk hal yang bermanfaat. Kalau banyak orang melakukan hal kecil itu, lama-lama lingkungan akan menjadi lebih baik.
Aku membayangkan lingkungan yang bebas narkoba sebagai tempat yang nyaman. Anak-anak bisa bermain dengan aman. Remaja bisa berkumpul tanpa takut terpengaruh hal buruk. Orang tua bisa merasa tenang. Sekolah bisa menjadi tempat belajar yang menyenangkan. Masyarakat bisa saling menjaga. Lingkungan seperti itu mungkin tidak langsung terjadi, tetapi harus diusahakan bersama.
Aku tahu berkata “bebas narkoba” tidak cukup hanya dijadikan slogan. Slogan bisa ditulis di poster, tetapi sikapnya harus dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Percuma mengatakan anti narkoba kalau masih suka ikut pergaulan buruk. Percuma bilang ingin masa depan cerah kalau masih berani mencoba sesuatu yang merusak. Jadi, menurutku, anti narkoba harus dibuktikan dengan tindakan.
Aku ingin menjadi anak yang punya masa depan. Aku ingin suatu hari nanti bisa melihat masa remajaku dengan bangga. Aku ingin berkata bahwa aku pernah punya banyak pilihan, tetapi aku memilih jalan yang benar. Aku ingin membuktikan bahwa remaja bisa kuat, bisa punya prinsip, dan bisa menjaga diri dari hal-hal buruk.
Aku tidak mau masa depanku rusak hanya karena rasa penasaran. Aku tidak mau hidupku hancur hanya karena ingin terlihat keren. Aku tidak mau mengecewakan keluargaku hanya karena salah memilih teman. Hidupku terlalu berharga untuk dirusak oleh narkoba.
Karena itu, mulai sekarang aku ingin lebih berhati-hati. Aku ingin menjaga diriku, menjaga teman-temanku, dan ikut menjaga lingkunganku. Aku ingin menjadi bagian dari remaja yang sehat, kuat, dan berani berkata tidak pada narkoba.
Aku dan lingkunganku harus bebas narkoba. Bukan hanya hari ini, tetapi selamanya. Karena masa depan tidak boleh dirusak oleh narkoba. Masa depan harus dijaga, diperjuangkan, dan dibangun dengan pilihan yang benar.
Juara 2
MUHAMMAD RAZAKY YANRIKO
Jakarta, 10 Juni 2011
DALAM LOMBA MENULIS REMAJA USIA 13-15 TAHUN
TEMA:
“Aku dan Lingkunganku Bebas Narkoba”
Tingkat Nasional
Judul: “Pilihan Kecil yang Menentukan Masa Depanku”
Aku sering mendengar orang dewasa berkata bahwa masa remaja adalah masa yang paling indah. Katanya, masa remaja adalah waktu untuk belajar, berteman, mencoba hal baru, dan mulai mengenal diri sendiri. Mungkin itu benar. Tapi menurutku, masa remaja juga bukan masa yang sederhana. Di usia seperti aku sekarang, banyak hal mulai terasa membingungkan. Kadang aku ingin dianggap dewasa, tapi di sisi lain aku masih sering bingung menentukan pilihan.
Salah satu hal yang membuatku sadar bahwa hidup harus dijaga adalah ketika aku mendengar tentang bahaya narkoba. Dulu, bagiku narkoba hanya seperti kata-kata yang sering muncul di poster sekolah. Aku sering melihat tulisan “Jauhi Narkoba” atau “Narkoba Merusak Generasi Bangsa”. Awalnya aku tidak terlalu memikirkannya. Aku hanya membaca, lalu lewat begitu saja. Tapi semakin besar, aku mulai paham bahwa tulisan itu bukan sekadar hiasan. Itu adalah peringatan.
Aku mulai sadar bahwa narkoba bukan masalah yang jauh dari kehidupan remaja. Narkoba bisa masuk ke lingkungan mana saja kalau orang-orang di dalamnya tidak peduli. Narkoba bisa merusak anak sekolah, merusak keluarga, merusak pertemanan, bahkan merusak masa depan seseorang. Yang paling menakutkan, semua itu bisa dimulai dari satu pilihan kecil, yaitu mencoba.
Aku tidak ingin menjadi orang yang hidupnya hancur karena pilihan yang salah. Aku masih berusia 14 tahun. Jalanku masih panjang. Aku masih ingin sekolah, ingin punya prestasi, ingin membanggakan orang tua, dan ingin mengejar cita-citaku. Aku belum tahu pasti nanti ingin menjadi apa, tetapi aku tahu satu hal: aku tidak ingin masa depanku berhenti hanya karena narkoba.
Kadang aku berpikir, kenapa ada orang yang mau mencoba narkoba. Mungkin ada yang penasaran. Mungkin ada yang ingin dianggap berani. Mungkin ada yang sedang punya masalah. Mungkin ada juga yang hanya ikut-ikutan teman. Tapi menurutku, alasan apa pun tidak cukup untuk membenarkan narkoba. Rasa penasaran tidak boleh lebih besar daripada keselamatan diri sendiri. Keinginan untuk diterima teman tidak boleh membuat kita mengorbankan masa depan.
Aku tahu menjadi remaja kadang membuat kita ingin terlihat keren. Ada rasa ingin diakui. Ada rasa ingin punya banyak teman. Ada rasa takut dianggap berbeda. Tapi sekarang aku mulai belajar bahwa tidak semua hal yang terlihat keren itu benar. Kadang yang terlihat keren justru bisa menghancurkan. Menolak narkoba mungkin dianggap tidak gaul oleh sebagian orang, tetapi menurutku itu jauh lebih berani daripada ikut-ikutan dalam hal yang salah.
Aku pernah membayangkan jika suatu hari ada seseorang yang menawariku sesuatu yang aneh. Mungkin dia akan berkata bahwa itu hanya untuk bersenang-senang. Mungkin dia akan bilang bahwa semua orang pernah mencoba. Mungkin dia akan mengejekku kalau aku menolak. Kalau itu terjadi, aku ingin tetap kuat. Aku ingin bisa berkata, “Tidak. Aku tidak mau.” Kalimat itu memang pendek, tetapi mungkin bisa menyelamatkan hidupku.
Menurutku, keberanian yang sebenarnya bukan hanya berani melawan musuh atau melakukan hal besar. Keberanian juga berarti berani menolak ajakan buruk. Berani pergi dari lingkungan yang tidak sehat. Berani berbeda dari teman-teman yang salah arah. Berani menjaga diri walaupun orang lain mengejek. Itu tidak mudah, tapi harus dilakukan.
Aku tidak mau menjadi orang yang mudah dikendalikan oleh tekanan teman. Aku ingin punya prinsip. Aku ingin bisa memilih mana yang baik dan mana yang buruk. Kalau aku hanya mengikuti apa yang dilakukan orang lain, berarti aku belum benar-benar memimpin hidupku sendiri. Padahal hidup ini milikku. Keputusan yang aku ambil hari ini bisa memengaruhi masa depanku nanti.
Lingkungan juga sangat penting. Aku percaya, seseorang bisa menjadi lebih baik kalau berada di lingkungan yang baik. Sebaliknya, seseorang bisa rusak kalau terlalu lama berada di lingkungan yang buruk. Karena itu, aku ingin lingkunganku bebas dari narkoba. Bukan hanya bebas dalam arti tidak ada barang haram itu, tetapi juga bebas dari kebiasaan yang bisa membawa kami mendekatinya.
Lingkungan bebas narkoba menurutku adalah lingkungan yang sehat. Di dalamnya, anak-anak dan remaja punya kegiatan positif. Mereka tidak dibiarkan terlalu lama berada dalam pergaulan yang salah. Mereka punya tempat untuk belajar, bermain, berolahraga, dan bercerita. Lingkungan seperti itu membuat seseorang merasa diperhatikan, bukan dibiarkan sendirian.
Aku ingin sekolahku menjadi tempat yang benar-benar aman. Aku ingin sekolah bukan hanya mengajarkan pelajaran, tetapi juga membantu murid-murid memahami bahaya pergaulan bebas dan narkoba. Kadang nasihat tentang narkoba memang terdengar sering diulang, tetapi menurutku itu tetap penting. Lebih baik sering diingatkan daripada terlambat sadar setelah ada yang menjadi korban.
Di sekolah, teman punya pengaruh besar. Setiap hari kami bertemu, belajar bersama, bercanda, dan berbagi cerita. Karena itu, memilih teman bukan hal sepele. Teman bisa membuat kita lebih semangat, tetapi teman juga bisa menyeret kita ke hal buruk. Aku tidak mengatakan bahwa kita harus memilih teman yang sempurna, karena semua orang pasti punya kekurangan. Tapi setidaknya, aku harus tahu mana teman yang membawa pengaruh baik dan mana yang harus dijauhi.
Teman yang baik tidak harus selalu pintar atau populer. Teman yang baik adalah teman yang tidak mengajak kita merusak diri. Teman yang baik berani mengingatkan ketika kita salah. Teman yang baik tidak memaksa kita melakukan sesuatu yang berbahaya. Kalau ada teman yang mengajak memakai narkoba, menurutku itu bukan teman yang sedang bercanda. Itu tanda bahaya.
Aku juga berpikir bahwa keluarga punya peran penting. Rumah seharusnya menjadi tempat paling aman untuk seorang anak. Di rumah, anak seharusnya bisa bercerita tanpa takut langsung dimarahi. Memang orang tua kadang tegas, bahkan kadang membuat kita kesal. Tapi aku percaya, banyak orang tua hanya ingin anaknya selamat. Aku berharap orang tua bisa lebih sering mendengarkan anak-anaknya, bukan hanya menilai dari luar.
Kadang anak remaja tidak langsung bercerita ketika punya masalah. Bukan karena tidak mau, tetapi karena takut tidak dimengerti. Ada anak yang memilih diam karena takut dianggap lemah. Ada yang tertawa di depan teman-temannya, padahal sebenarnya sedang sedih. Ada yang terlihat biasa saja, padahal pikirannya penuh. Kalau anak seperti itu tidak punya tempat untuk bercerita, dia bisa mencari pelarian yang salah.
Tapi aku juga sadar, masalah bukan alasan untuk mendekati narkoba. Semua orang pasti punya masalah. Ada yang masalahnya kecil, ada yang besar. Ada yang bisa langsung selesai, ada yang butuh waktu. Namun narkoba tidak akan membuat masalah hilang. Narkoba hanya membuat seseorang lupa sebentar, lalu menghancurkan hidupnya perlahan-lahan. Itu bukan solusi. Itu jebakan.
Kalau aku sedang sedih atau banyak pikiran, aku ingin belajar mencari cara yang lebih baik. Aku bisa menulis, berdoa, bercerita kepada orang yang dipercaya, mendengarkan musik, olahraga, atau melakukan hal yang membuat pikiran lebih tenang. Tidak semua masalah langsung selesai, tetapi setidaknya aku tidak merusak diriku sendiri.
Aku juga ingin lebih menghargai tubuhku. Tubuh ini harus dijaga, bukan dirusak. Kalau seseorang memakai narkoba, tubuhnya bisa menjadi lemah. Pikirannya bisa terganggu. Emosinya bisa tidak stabil. Sekolahnya bisa berantakan. Hubungan dengan keluarga dan teman juga bisa rusak. Aku tidak mau semua itu terjadi padaku. Aku ingin tubuhku sehat agar aku bisa menjalani hidup dengan baik.
Selain menjaga diri sendiri, aku juga ingin ikut menjaga teman-temanku. Jika ada teman yang mulai berubah, sering menyendiri, mudah marah, atau bergaul dengan orang-orang yang mencurigakan, mungkin dia sedang butuh bantuan. Aku tidak boleh langsung mengejek atau menyebarkan cerita buruk tentangnya. Tapi aku juga tidak boleh ikut-ikutan kalau dia melakukan hal salah. Menolong teman berarti mengajaknya kembali ke jalan yang benar, bukan ikut jatuh bersamanya.
Aku tahu menjaga lingkungan bebas narkoba tidak bisa dilakukan sendirian. Semua orang harus ikut terlibat. Anak-anak harus belajar menolak. Remaja harus saling mengingatkan. Guru harus membimbing. Orang tua harus memperhatikan. Masyarakat harus peduli. Kalau semua orang hanya diam, narkoba bisa masuk pelan-pelan tanpa disadari. Diam terhadap hal buruk bisa membuat keadaan menjadi semakin buruk.
Aku ingin lingkunganku penuh dengan kegiatan yang bermanfaat. Misalnya kegiatan olahraga, seni, belajar kelompok, kerja bakti, lomba, atau kegiatan remaja lainnya. Hal-hal seperti itu mungkin terlihat sederhana, tapi bisa membuat anak muda punya tempat untuk menyalurkan energi. Kalau remaja punya kegiatan positif, mereka tidak mudah mencari kesenangan dari hal yang salah.
Aku juga ingin media sosial digunakan dengan lebih bijak. Sekarang banyak hal bisa dilihat dari internet. Ada yang baik, ada juga yang buruk. Kadang sesuatu yang berbahaya bisa terlihat biasa saja karena dikemas dengan menarik. Karena itu, aku harus lebih hati-hati. Tidak semua yang viral pantas ditiru. Tidak semua yang terlihat menyenangkan aman untuk dilakukan. Aku harus bisa berpikir sebelum mengikuti sesuatu.
Menurutku, bebas narkoba bukan hanya tentang tidak memakai narkoba. Bebas narkoba juga berarti punya pikiran yang sehat, pergaulan yang sehat, dan kebiasaan yang sehat. Kalau hidup kita diisi dengan hal-hal baik, kita akan lebih kuat menolak hal buruk. Tapi kalau hidup kita kosong, tanpa tujuan, tanpa kegiatan, dan tanpa orang yang peduli, maka pengaruh buruk lebih mudah masuk.
Aku tidak mau hidup tanpa arah. Aku ingin mulai membangun masa depanku dari sekarang, walaupun langkahku masih kecil. Aku bisa mulai dengan belajar lebih rajin, memilih teman yang baik, menghormati orang tua, menjaga kesehatan, dan menjauhi narkoba. Mungkin itu terdengar biasa, tetapi hal besar memang sering dimulai dari kebiasaan kecil.
Aku sadar bahwa aku belum sempurna. Aku masih sering malas, masih sering menunda tugas, dan kadang masih sulit mengatur emosi. Tapi aku tidak mau menjadikan kekuranganku sebagai alasan untuk menyerah. Aku masih bisa berubah. Aku masih bisa belajar. Aku masih bisa menjadi lebih baik. Yang penting, aku tidak memilih jalan yang merusak diriku sendiri.
Bagiku, masa depan adalah sesuatu yang harus dijaga sejak sekarang. Tidak ada orang yang tiba-tiba sukses tanpa menjaga dirinya. Tidak ada cita-cita yang bisa dicapai kalau hidup sudah rusak oleh narkoba. Karena itu, aku ingin menjauh sejauh-jauhnya dari narkoba. Aku tidak ingin mencoba, tidak ingin mendekati, dan tidak ingin menganggapnya sebagai hal biasa.
Aku ingin menjadi remaja yang kuat. Kuat bukan berarti tidak pernah takut. Kuat berarti tetap memilih yang benar walaupun ada godaan. Kuat berarti berani berkata tidak. Kuat berarti tidak menyerahkan masa depan kepada pergaulan buruk. Kuat berarti sadar bahwa hidup ini berharga.
Jika suatu hari nanti aku sudah dewasa, aku ingin mengingat masa remajaku sebagai masa ketika aku belajar menjaga diri. Aku ingin bangga karena tidak menyerah pada ajakan yang salah. Aku ingin bisa berkata bahwa aku pernah berada di usia yang penuh pilihan, dan aku memilih untuk tetap bersih dari narkoba.
Aku dan lingkunganku harus bebas dari narkoba. Itu bukan hanya kalimat untuk poster atau tugas sekolah. Itu adalah harapan yang harus dilakukan. Aku ingin hidup di lingkungan yang aman, sehat, dan saling menjaga. Aku ingin teman-temanku punya masa depan yang baik. Aku ingin keluargaku tenang. Aku ingin sekolahku bersih dari pengaruh buruk.
Mulai hari ini, aku ingin lebih berani menjaga diri. Aku ingin lebih bijak memilih teman. Aku ingin lebih hati-hati terhadap ajakan yang mencurigakan. Aku ingin mengisi waktuku dengan hal yang berguna. Karena satu pilihan kecil bisa menentukan masa depan. Dan aku memilih untuk menjauhi narkoba, menjaga diriku, serta ikut menjaga lingkunganku.
Juara 3
Rafa Aditia Putra
Tangerang Selatan, 11 Januari 2011
DALAM LOMBA MENULIS REMAJA USIA 13-15 TAHUN
TEMA:
“Aku dan Lingkunganku Bebas Narkoba”
Tingkat Nasional
Judul: “Aku Ingin Menjadi Alasan Lingkunganku Tetap Baik”
Aku pernah berpikir bahwa menjaga diri dari narkoba itu cukup dengan tidak memakainya. Menurutku dulu, selama aku tidak menyentuh narkoba, berarti semuanya aman. Tapi setelah aku semakin besar, aku mulai sadar bahwa bebas narkoba bukan hanya tentang diriku sendiri. Lingkungan di sekitarku juga harus dijaga. Karena kalau lingkunganku tidak baik, aku dan teman-temanku bisa saja ikut terpengaruh tanpa sadar.
Usiaku masih 14 tahun. Aku belum tahu semua hal tentang dunia. Aku juga belum punya banyak pengalaman seperti orang dewasa. Tapi aku sudah cukup mengerti bahwa hidup ini bisa berubah karena pilihan yang kita ambil. Ada pilihan yang membuat hidup menjadi lebih baik, ada juga pilihan yang membuat hidup hancur. Narkoba adalah salah satu pilihan buruk yang bisa merusak semuanya.
Aku sering mendengar berita tentang orang yang tertangkap karena narkoba. Ada yang masih muda, ada yang sudah dewasa. Ada yang awalnya hanya coba-coba, lalu akhirnya kecanduan. Dari situ aku merasa takut. Bukan takut karena beritanya saja, tetapi takut kalau suatu hari narkoba masuk ke lingkungan yang dekat denganku. Aku takut kalau ada teman yang terjerumus. Aku takut kalau ada anak seusiaku yang kehilangan masa depan karena tidak kuat menolak ajakan buruk.
Kadang orang menganggap anak remaja belum mengerti apa-apa. Padahal kami juga melihat banyak hal. Kami melihat pergaulan di sekitar kami. Kami melihat teman yang berubah sikap. Kami melihat orang yang salah memilih jalan. Kami juga merasakan tekanan untuk diterima. Di usia seperti ini, kadang seseorang bisa melakukan sesuatu bukan karena benar-benar ingin, tetapi karena takut tidak punya teman.
Aku tidak mau menjadi seperti itu. Aku tidak mau melakukan hal buruk hanya karena ingin dianggap berani. Aku tidak mau ikut-ikutan hanya karena takut dibilang pengecut. Menurutku, kalau seseorang berani menolak narkoba, justru dia lebih kuat. Karena menolak ajakan buruk tidak selalu mudah. Kadang butuh keberanian besar untuk berkata “tidak”, apalagi kalau yang mengajak adalah teman sendiri.
Aku ingin punya prinsip dalam hidupku. Prinsip itu sederhana: aku tidak akan memakai narkoba, tidak akan mencoba, dan tidak akan membiarkan diriku dekat dengan hal-hal seperti itu. Aku tahu mungkin ada orang yang berkata, “Sekali saja tidak apa-apa.” Tapi menurutku, justru dari “sekali saja” itulah bahaya dimulai. Banyak hal buruk tidak langsung terlihat besar di awal. Awalnya kecil, lalu lama-lama menghancurkan.
Aku tidak mau menukar masa depanku dengan rasa penasaran. Aku masih ingin belajar. Aku masih ingin bermain dengan tenang. Aku masih ingin membuat orang tuaku bangga. Aku masih ingin mempunyai cita-cita. Walaupun sekarang aku belum benar-benar yakin ingin menjadi apa, aku tetap ingin punya masa depan yang baik. Kalau aku merusak diriku dengan narkoba, semua impian itu bisa hilang.
Menurutku, masa depan itu seperti jalan panjang. Kita tidak tahu semua yang akan terjadi di depan, tetapi kita bisa memilih langkah yang benar dari sekarang. Kalau sejak remaja sudah salah jalan, langkah berikutnya akan semakin berat. Narkoba bisa membuat seseorang kehilangan arah. Sekolah bisa berantakan, hubungan dengan keluarga rusak, tubuh menjadi tidak sehat, dan pikiran tidak tenang.
Aku juga memikirkan keluargaku. Mungkin aku sering kesal kalau dinasihati. Kadang aku merasa orang tua terlalu cerewet. Tapi aku tahu mereka tidak ingin aku rusak. Mereka ingin aku selamat. Mereka ingin aku tumbuh menjadi anak yang baik. Kalau aku sampai terjerumus narkoba, pasti mereka sangat sedih. Aku tidak mau membuat mereka menangis karena kesalahanku sendiri.
Selain keluarga, aku juga memikirkan teman-temanku. Di sekolah, teman adalah orang yang sering bersamaku setiap hari. Kami belajar bersama, bercanda, mengerjakan tugas, dan berbagi cerita. Karena itu, aku ingin teman-temanku juga bebas dari narkoba. Aku tidak ingin ada teman yang awalnya ceria, lalu berubah karena pergaulan yang salah. Aku tidak ingin melihat teman kehilangan semangat belajar karena terjebak hal buruk.
Aku tahu aku bukan pahlawan. Aku juga bukan orang yang bisa mengatur hidup orang lain. Tapi setidaknya aku bisa mulai dari diriku sendiri. Aku bisa menjadi teman yang tidak mengajak kepada hal buruk. Aku bisa mengingatkan kalau ada teman yang mulai salah arah. Aku bisa menjauh kalau ada pergaulan yang terasa berbahaya. Aku bisa memilih untuk tidak diam jika melihat sesuatu yang mencurigakan.
Lingkungan yang bebas narkoba tidak akan muncul begitu saja. Lingkungan seperti itu harus dibentuk oleh orang-orang di dalamnya. Kalau semua orang hanya peduli pada dirinya sendiri, maka hal buruk bisa masuk dengan mudah. Tapi kalau kami saling peduli, saling mengingatkan, dan saling menjaga, lingkungan akan menjadi lebih aman.
Aku ingin lingkungan rumahku menjadi tempat yang nyaman. Aku ingin anak-anak bisa bermain tanpa melihat contoh buruk. Aku ingin para remaja punya kegiatan positif. Aku ingin orang dewasa memperhatikan anak-anak muda di sekitarnya. Bukan dengan cara selalu mencurigai, tetapi dengan cara peduli dan hadir ketika dibutuhkan. Kadang anak muda tidak butuh ceramah panjang. Kadang kami hanya butuh didengarkan.
Aku juga ingin sekolahku menjadi lingkungan yang kuat melawan narkoba. Bukan hanya dengan poster di dinding, tetapi juga dengan kebiasaan sehari-hari. Misalnya guru memberi nasihat dengan cara yang mudah dipahami. Teman-teman saling mendukung kegiatan positif. Sekolah menyediakan ruang untuk bakat dan minat siswa. Karena kalau siswa punya kegiatan yang baik, mereka lebih sibuk membangun diri daripada mencari pelarian yang salah.
Menurutku, kegiatan positif sangat penting. Remaja punya banyak energi. Kalau energi itu tidak diarahkan, bisa saja dipakai untuk hal yang salah. Aku ingin mengisi waktuku dengan hal-hal yang berguna, seperti belajar, olahraga, membaca, membantu orang tua, ikut kegiatan sekolah, atau melakukan hobi. Tidak harus selalu kegiatan besar. Yang penting, waktuku tidak kosong untuk hal-hal yang merusak.
Aku pernah mendengar bahwa narkoba bisa membuat orang merasa tenang sementara. Tapi setelah itu, hidupnya justru menjadi lebih kacau. Menurutku, itu bukan ketenangan yang benar. Ketenangan yang benar datang dari hati yang bersih, pikiran yang sehat, dan hidup yang tidak disembunyikan dari orang-orang yang menyayangi kita. Kalau seseorang harus merusak tubuhnya hanya untuk merasa tenang, berarti dia sedang membutuhkan bantuan, bukan narkoba.
Aku juga percaya bahwa masalah tidak boleh diselesaikan dengan cara yang salah. Setiap orang pasti punya masalah. Aku juga punya. Kadang aku merasa tertekan oleh tugas sekolah. Kadang aku merasa dibanding-bandingkan. Kadang aku merasa tidak percaya diri. Kadang aku merasa kesepian walaupun sedang bersama banyak orang. Tapi semua itu bukan alasan untuk memakai narkoba.
Kalau aku sedang punya masalah, aku ingin belajar mencari jalan keluar yang lebih sehat. Aku bisa bercerita kepada orang yang aku percaya. Aku bisa menulis apa yang aku rasakan. Aku bisa berdoa. Aku bisa beristirahat sebentar. Aku bisa melakukan kegiatan yang membuat pikiranku lebih tenang. Mungkin tidak semua masalah langsung selesai, tetapi setidaknya aku tidak menambah masalah baru.
Aku ingin teman-temanku juga tahu bahwa mereka tidak sendirian. Kalau ada yang sedih, sebaiknya jangan langsung mencari pelarian. Kalau ada yang merasa tidak dimengerti, sebaiknya mencari orang yang bisa dipercaya. Kalau ada yang mulai didekati oleh pergaulan buruk, sebaiknya segera menjauh. Kadang langkah menyelamatkan diri memang terasa berat, tapi itu lebih baik daripada menyesal nanti.
Bagiku, narkoba bukan hanya merusak orang yang memakainya. Narkoba juga merusak orang-orang di sekitarnya. Keluarga ikut sedih. Teman ikut kecewa. Lingkungan ikut merasa tidak aman. Masa depan yang seharusnya bisa indah menjadi berantakan. Karena itu, menjauhi narkoba bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk orang-orang yang menyayangi kita.
Aku ingin menjadi bagian dari lingkungan yang bersih. Aku ingin kehadiranku membawa pengaruh baik, walaupun kecil. Mungkin aku tidak bisa mengubah semua orang. Tapi aku bisa menjaga ucapanku, tindakanku, dan pergaulanku. Aku bisa memilih untuk tidak menjadi penyebab teman masuk ke jalan yang salah. Aku bisa menjadi orang yang mengajak kepada hal positif.
Aku juga ingin lebih hati-hati dalam memilih teman. Bukan berarti aku harus sombong atau memilih-milih secara berlebihan. Tapi aku harus tahu batas. Kalau ada teman yang suka melakukan hal berbahaya, aku harus berani menjaga jarak. Kalau ada teman yang mengajak pada kebaikan, aku harus mendekat. Lingkungan pertemanan bisa membentuk kebiasaan seseorang. Jadi, memilih teman bukan hal kecil.
Aku sering berpikir, mungkin masa depan tidak rusak dalam satu hari. Masa depan rusak karena kebiasaan buruk yang dibiarkan terus-menerus. Begitu juga sebaliknya, masa depan yang baik dibangun dari kebiasaan kecil yang dilakukan setiap hari. Karena itu, aku ingin mulai dari kebiasaan sederhana: berkata jujur, belajar dengan baik, menghormati orang tua, memilih teman yang benar, dan menjauhi narkoba.
Aku tidak ingin hanya berkata “anti narkoba” karena itu terdengar bagus. Aku ingin membuktikannya lewat sikap. Kalau ada ajakan buruk, aku menolak. Kalau ada lingkungan yang tidak sehat, aku menjauh. Kalau ada teman yang butuh diingatkan, aku mencoba mengingatkan. Kalau aku sendiri mulai salah arah, aku harus berani memperbaiki diri.
Aku tahu hidup sebagai remaja masih panjang dan akan ada banyak godaan. Mungkin hari ini aku merasa kuat, tapi besok belum tentu. Karena itu, aku harus terus menjaga diri. Aku tidak boleh terlalu percaya diri sampai merasa tidak mungkin terpengaruh. Justru orang yang merasa terlalu aman kadang menjadi lengah. Aku harus sadar bahwa bahaya bisa datang dari mana saja.
Aku ingin punya lingkungan yang membuatku tumbuh menjadi lebih baik. Lingkungan yang tidak menertawakan orang yang memilih benar. Lingkungan yang tidak menganggap narkoba sebagai hal biasa. Lingkungan yang memberi ruang kepada remaja untuk berkembang. Lingkungan yang saling menjaga, bukan saling menjatuhkan.
Aku juga berharap para remaja seusiaku tidak malu untuk menjadi anak baik. Kadang menjadi anak baik dianggap membosankan. Padahal menurutku, menjaga diri itu bukan hal memalukan. Justru itu tanda bahwa kita menghargai hidup. Tidak semua hal harus dicoba. Tidak semua ajakan harus diterima. Tidak semua teman harus diikuti.
Aku ingin masa remajaku menjadi masa yang bisa aku kenang dengan baik. Aku ingin mengingat bahwa aku pernah tertawa bersama teman, belajar banyak hal, melakukan kesalahan kecil, lalu memperbaikinya. Aku tidak ingin masa remajaku diingat sebagai masa ketika aku menghancurkan diri sendiri. Aku tidak ingin hidupku dikendalikan oleh narkoba.
Karena itu, aku memilih untuk menjauh. Aku memilih untuk menjaga diriku. Aku memilih untuk peduli pada lingkunganku. Aku memilih untuk tidak diam terhadap hal yang salah. Aku memilih untuk menjadi bagian dari lingkungan yang bebas narkoba.
Mungkin pilihanku ini terlihat sederhana. Tapi aku percaya, pilihan sederhana bisa berdampak besar. Ketika satu anak berani menolak narkoba, dia sedang menyelamatkan masa depannya. Ketika satu teman berani mengingatkan, dia mungkin sedang menyelamatkan temannya. Ketika satu lingkungan peduli, banyak anak muda bisa terlindungi.
Aku ingin menjadi alasan kecil mengapa lingkunganku tetap baik. Aku ingin menjadi remaja yang tidak hanya menjaga diri sendiri, tetapi juga ikut menjaga sekitar. Aku ingin rumahku, sekolahku, teman-temanku, dan masyarakat di sekitarku bebas dari narkoba. Karena hidup yang sehat dan masa depan yang baik tidak datang sendiri. Semuanya harus dijaga mulai sekarang.
Aku dan lingkunganku bebas narkoba bukan hanya tema tulisan. Bagiku, itu adalah harapan. Harapan agar aku tetap kuat. Harapan agar teman-temanku tidak salah jalan. Harapan agar lingkunganku menjadi tempat yang aman. Dan harapan agar masa depan kami tidak dirusak oleh narkoba.
Mulai hari ini, aku ingin terus mengingat bahwa hidupku berharga. Aku tidak boleh menyerahkannya kepada narkoba, pergaulan buruk, atau rasa penasaran sesaat. Aku ingin tumbuh menjadi orang yang sehat, kuat, dan berguna. Aku ingin menjaga diriku, menjaga teman-temanku, dan menjaga lingkunganku. Karena masa depan yang baik dimulai dari pilihan yang benar.





